Malam masih bayi. Terang lampu petromaks bekelap-kelip di kejauhan, mengilaukan permukaan laut di kepekatan malam. Dingin menikam sendi. Tapi malam cukup semarak. Membunuh sepi. Dibuai tiupan angin laut yang teduh.
“Kota kamu cantik, Joseph. Small but beautifull.” Tutur Jessica memuji.
Aku melirik mencari kejujuran. Pandangannya polos dan tulus membelah Teluk Manado. Menyimpan kagum dan puja. Sangat misterius. Aku tersenyum.
“Tidak terlalu cantik dibanding kotamu.” Hmm. Aku menyeret diri dalam kebohongan. Mana pernah kulihat atau bahkan menetap di kotanya. Melbourne bagiku hanyalah salah satu pengetahuan geografis yang dipelajari sejak sekolah dasar.
“No, I am serious. Keindahan Kota Manado menggambarkan tradisi yang kuat. Sebuah estetika alam dan manusia yang selaras. Aku beruntung bisa menikmatinya cukup lama.” Mimik Jessica menyimak mataku sungguh-sungguh. Dan jujur itu masih bersemayam di sana. Aku menelan ludah. Begitulah mereka, kulitnya putih, rambutnya pirang dan blak-blakan. Keterbukaan dan kejujuran yang kadang bisa menyakitkan orang-orang kita yang suka memendam perasaan, mendustai hati demi toleransi.
Sebuah gerobak sate nongkrong tak jauh di sana. Si penjual duduk di atas tembok, serata dengan kami. Ia mengipasi dadanya yang agak terbuka. Malam yang tanggung. Pembeli belum banyak berdatangan, sementara yang lain sudah pulang setelah menikmati sunset boulevard yang menawan.
“Makan Jessica?” Tanyaku dengan tatap masih belum beringsut dari si penjual itu. Ia memindahkan matanya mengikut pandanganku.
“Makan apa?” Selidiknya bingung. Menoleh ke gerobak yang cuma disinari sebatang lilin itu.
“Indonesian Beef Steak.” Selorohku diikuti tawa berderai.
Ia pun tertawa.
“Mau?” Tanyaku lagi setelah tawa kami mereda.
“Pedas tidak?”
“Coba saja dulu.”
“What do you call ii?”
“Sate ayam. Its spicy but delicious. Mau mencoba?”
Ia mengangguk dengan airmuka penasaran. Aku pun segera memesan sepiring sate berukuran dua porsi lengkap dengan lontongnya. Dan bursa dagang yang sepi membuat si penjual itu dengan gerak yang cekatan mampu menyajikannya bagi kami secara kilat.
“Ups. Pedas sekali?” Ujarnya berdecak kepedasan setelah lidahnya menyentuh tusuk pertamanya.
“Orang Manado suka hidangan pedas. Ini belum seberapa.” Sambutku seraya menarik satu tusuk.
“Really?” Mata Jessica melotot separuh tak percaya. Pendar basah di matanya menggambarkan pedas yang tak bisa ia tahan. Ia menyeruput coca-cola dari sedotannya.
“Betul. Jangankan kamu, hampir seluruh masyarakat di Indonesia tidak sanggup menyantap hidangan asli Manado. Terlampau pedas.” Tambahku mempertegas.
“Kalian bisa sakit, Yoseph.” Ia memperingatkan.
“Tidak, kami sudah terbiasa.” Jawabku membantah.
“Kamu asli Manado?”
“Bisa di bilang begitu, tapi sebenarnya bapakku berasal dari Motoling sedang ibuku dari Tondano. Jadi secara suku aku campuran Tountemboan dan Toumbulu.”
Penjelasan itu disambut airmuka tak mengerti.
“I don’t understand.” Kali ini ia hanya melahap lontong saja.
“Of course you don’t understand. You only here for two and a half months.”
“Yeaah. Poor me. Dua minggu depan aku harus kembali ke Melbourne.” Sesalnya menerawang.
Jessica gadis Australia. Ia menempuh kuliah di University Of Melbourne pada jurusan kesusasteraan Indonesia. Aneh juga ia mengambil Manado sebagai obyek penelitiannya. Padahal ia bisa memperdalamnya di Pulau Jawa atau Sumatra yang secara linguistik lebih memiliki sejarah kepada perkembangan sastra dan bahasa Indonesia ketimbang Manado yang cenderung mengadopsi bahasa asing dalam konstelasi bahasa daerah maupun bahasa nasional. Tapi justru itulah yang membuatnya tertarik. Ia ingin mempelajari seberapa jauh tingkat penyerapan bahasa asing dalam komunikasi masyarakat kita yang multi kultur. Aku sendiri bukan siapa-siapa. Cuma mahasiswa Sastra Indonesia semester tujuh di Universitas Samratulangi. Universitas yang memfasilitasi keperluan Jessica selama melakukan penelitian. Kami secara tak sengaja bertemu di perpustakaan kampus.
“Tempat mana yang paling kamu sukai dari kotaku ini, Jessica? Maksudku, setelah hampir tiga bulan berdiam di Manado dan berkunjung ke beberapa tempat di Sulawesi Utara?” Tanyaku dengan mulut penuh.
Bibirnya memerah ketika ia memaksakan diri menyantap setusuk lagi dan saus kacangnya. Ia mengernyitkan dahi berpikir.
“Bunaken?” Tebakku lebih dahulu.
Sontak ia menggeleng. Aku sedikit terkejut penasaran. Apalagi yang ia sukai? Bukankah Bunaken adalah primadona masyarakat kita?
“Bunaken tempat favorit semua orang Manado. The proudness of the city. Mengapa kamu tak suka?” Aku mulai sangsi.
Ia mengulum senyum.
“Why it must Bunaken?” Ucapnya balik bertanya.
“Maksudmu?”
“Mengapa setiap wisatawan yang ke sini selalu saja kalian sodorkan Bunaken, Bunaken dan Bunaken. Why? Bunaken bagiku hanyalah salah satu tempat yang indah di daerah ini, Joseph. Bukan berarti Bunaken itu jelek. Tetapi kalau kalian menghargai Bunaken setinggi itu, apa lagi artinya tempat-tempat indah yang lain? Lake Tondano for example. It has a wonderfull view. Ibarat lingkaran cincin, tempatkanlah Bunaken sebagai mata mahkota cincinnya. Tapi bukan berarti kita harus mengabaikan cincin itu sendiri bukan?” Aku ditohok. Dipermalukan. Jessica mengagumi daerahku secara utuh. Bukan semata-mata Pulau Bunaken. Benar, boring.
“Jadi, tempat mana yang paling kamu sukai Jessica?” Desakku serius seraya menaikkan kaki ke atas beton panjang Boulevard. Kami sekarang duduk berhadapan dengan kaki bersilang.
“The ancient grave Waruga.” Jawabnya jujur. Aku kian tertarik berbaur heran. Ah, itu sih kuno. Semua sudara bahkan birman akan tertawa melecehkan kalau kuajak mereka ke waruga. Mereka bilang apa torang mo lia di sana?
“And?” Tanyaku lagi sebab kuketahui, ada tempat yang belum sempat ia sebutkan. Tertelan bersama potongan sate yang bahkan aku tak tertarik lagi. Ia justru meski lambat tapi pasti dan dengan susah payah menguasai rasa pedasnya semakin lahap menandaskan tusuk demi tusuk. Tapi coca-cola dihadapannya telah bertambah sebotol lagi.
“Jalan ini. This Boulevard. Inilah tempat terfavorit saya.” Ujarnya tanpa basa-basi.
“Ah, kamu.” Sergahku skeptis kemudian tergelak. Ia menunda kunyahannya dengan delikkan aneh ke arahku.
“Kamu semakin ngawur, Jessica. Apa kelebihan jalan ini? Cuma jalan tepi pantai yang biasa-biasa saja. Jalan ini tidak layak disebut Boulevard. Terlalu kecil. Bahkan tiada pohon atau rerumputan hijau yang tumbuh selain batu-batu yang berserakan.” Kritikku melecehkan. Tapi heran, aku seolah menuding diri sendiri.
“Tapi kalian yang menamakannya Boulevard bukan? Dan itu membuatku kagum. Kalian bangga dalam kesederhanaan. Kamu tahu kesan pertamaku ketika tiba pertama kali di sini? Aku terkesima. Ada sunset yang mempesona. Ada tiupan angin laut yang sejuk. Ada denyut kehidupan yang bersahaja menyusuri detik-detik malam. Aku langsung tahu. Ada sesuatu yang bisa aku banggakan dari kota ini. Jalan Boulevard ini mencerminkan karakter penduduk Kota Manado. Dan aku segera tahu setelah melintasi waktu demi waktu oleh keramahan warganya. Dan lebih gembira lagi bisa berteman dengan kamu, Joseph. A cute little boy.” Ia langsung tergelak menatapku.
Entahlah, aku cuma tersenyum tipis oleh pujian itu. Aku tertegun menyimak ucapan itu. Tak kusangka Boulevard yang aku sendiri sangsi untuk disetarakan dengan boulevard lain di negara luar. Yang aku sendiri belum melihatnya, yang begitu eksotis di gambarkan dalam senandung Boulevard yang populer itu, ternyata punya kesan mendalam di sanubari Jessica. Gadis bule yang cantik, yang seumur hidupnya bercokol di negeri seberang, negeri seberang yang selalu diidentikan dengan “lebih maju” dan “lebih moderen”.
“Are you allright, Joseph?” Sergah Jessica kuatir. Memegangi bahuku. Lamunanku buyar.
“I am Ok. No problem.”
Malam mulai dewasa. Kelip kuning lampu jalan membiaskan panorama teduh dari wajah Jessica. Desah angin menggeraikan rambutnya yang pirang. Ia begitu cantik. Bisikan malam menyapa kalbuku. Apakah aku sekadar memuja? Ataukah ada getar lain yang mulai mencabik sepi di relung hati? Jessica begitu tulus dan polos. Pandangannya menjelajah atmosfir laut dan boulevard yang mulai ramai dengan terpesona. Ia tidak menyadari secara bersamaan mataku sedang tersorot kagum ke wajahnya. Di sela kegelisahan yang lambat-laun menggerogoti hatiku.
“What are they doing, Joseph?” Tanya Jessica tiba-tiba. Aku menuruti arah telunjuknya. Seorang bapak berpakaian lusuh secara samar sedang menenteng sebuah lampu petromaks ditemani seorang anak kecil menerobos kegelitaan malam.
“Mereka nelayan. They are going to catch some fishes.” Jawabku datar.
“Oh, that’s really nice.” Kagum Jessica terperangah.
“Ah, itu pemandangan yang biasa Jessica.”
“Kamu sombong.” Tudingnya tiba-tiba.
“Sombong?”
“Yeah. Kekayaan negeri kamu membuat kamu jadi buta. Di tengah kota yang bergerak maju, masih terdapat nelayan tradisional yang menangkap ikan. Meretas hidup di sisi jejalan tembok gedung yang perlahan menyelimuti kota. Apakah itu tidak mengharukan? Kamu tidak akan menemui pemandangan seperti ini, Joseph. Tidak di Melbourne atau Sidney.”
“Mungkin karena kami terlampau sering melihatnya sehari-hari.”
“Probably, dan itu normal. Cobalah kita tengok bintang-bintang di atas sana dan bayangkan jika bintang itu hanya muncul sekali dalam sepuluh tahun. Tentu kita akan menikmatinya sebagai suatu keajaiban, bukan? Manusia terkadang menjadi angkuh dan lupa diri hanya oleh sesuatu yang menjadi biasa.”
Jessica, Jessica. Mengapa kamu tidak sudi berbasa-basi barang sejenak? Tidak tahukah kamu bahwa aku sudah merasa tersudut oleh pujian-pujianmu itu? Rintihku membathin.
“That little boy. Apakah ia ikut juga?” Tanyanya mengarah pada anak kecil tadi.
“Dia membantu pekerjaan bapaknya. Dia ikut.”
“Dia tidak sekolah?”
“Dia sekolah pagi hari dan membantu kedua orang tuanya di malam hari. Mereka pekerja keras. Itu warisan turun temurun.”
“Sangat impresif. Aku kagum tapi merasa kuatir, Joseph.” Nada suara itu tiba-tiba menggantung.
“Kuatir dengan apa?”
“Dengan kamu. Dengan nasib Boulevard ini.”
“Mengapa?”
“Since we talked about this topic you always sceptic. Kamu pesimis dan naif.”
“Itu tidak ada kaitannya dengan nasib jalan ini.”
“Ada, Joseph. Karakternya akan pudar jika kalian terus-terusan menganggapnya biasa saja. Banggakan dan rawatlah dia agar tetap lestari.”
“Kali ini kamu salah, semua warga Manado membanggai tempat ini. Boulevard adalah satu-satunya tempat hiburan kota yang mereka punya. Kamu lihat khan? Betapa banyak sepeda yang berseliweran sore tadi?”
“Kalian membanggainya. Tapi tidak mencintainya itu. Itu bahaya.”
Ha..ha..ha.. Aku terbahak.
“Ada-ada saja kamu saja, Jessica.”
“Aku serius, Joseph.” Kutangkap pancaran tegas mengalir deras di kebeningan bola matanya. Aku tercekat.
“Percayalah padaku, Jessica. Tidak ada yang harus ditakutkan. Aku berjanji padamu untuk membantu mempertahankan kelestarian land mark kota ini. Demi kamu dan demi aku. Oke? Now Lets change the topic.” Yakinku sungguh-sungguh. Berusaha lebih serius.
“I will miss this place.” Sebut Jessica menggumam.
“I will miss you Jessica.” Timpalku seketika.
Ia menoleh ke mataku. Meneliti lebih jauh gerangan yang bersemi di balik sana. Aku cuma membeku.
Itulah romantisme singkat di Boulevard. Nostalgia jenaka sebab Jessica mendapat diare pada keesokan harinya akibat perut yang tidak terbiasa mengkonsumsi makanan pedas. Tapi kejujuran dan kepolosannya mengenai Manado khususnya keteduhan dan semburat indah dari wajah boulevard begitu menjiwai kalbunya. Begitu eratnya hubungan emosinya dengan Boulevard membuat ia merelakan diri untuk pamit sejenak di situ sebelum pesawat Garuda menerbangkannya ke Denpasar, lalu Australia.
Tinggallah aku dengan ketidak-jujuran membebat hasrat. Tenggelam dalam telaga keresahan. Sebab buih putih itu ternyata berbenih kasih. Yang hanya bisa kupendam, yang hanya bisa kutelan dengan menggigit bibir. Mungkin suatu waktu kami akan bertemu, menggali lagi malam yang sama di Boulevard. Dengan penjual sate yang sama, dengan tiupan angin yang sama, dengan derai tawa yang mungkin masih senada.
Pantai Kuta Maret 2003.
Setelah beberapa tahun hanya bertegur sapa melalui surat. Jessica, kembali ke Indonesia. Bukan ke Manado, melainkan ke Bali. Aku sendiri tidak lagi bermukim di Manado. Setelah menyelesaikan kuliah aku memutuskan bekerja. Dan aktifitas semasa kuliah ternyata banyak membantu. Aku bertugas sebagai pemandu perahu karet untuk wisata arung jeram di sungai Ayung, Bali. Dan aku masih sendiri, bekerja di Bali semata-mata ingin lebih dekat dengan Australia. Siapa tahu Jessica berlibur di sana satu dua hari. Sekadar ingin mengobati sepi yang menggerogoti hati. Dan kesabaranku menuai hasil. Aku dan Jessica bersua. Tanpa rencana. Tapi cukup mengobati rindu.
“Aku ingin menjenguk Manado, Joseph. Aku rindu Boulevard.” Ucapnya setelah dua hari kami bertemu. Tubuhnya yang ramping membujur di pasir Kuta yang putih. Menantang surya untuk menggoda kulitnya yang mulus.
Aku membuang muka jauh-jauh. Orang-orang bertumpukan di sore yang garang.
“Boulevard? Apakah Kuta masih tidak cukup menarik bagimu?” Jawabku menyembunyikan sesuatu di hati.
“You always talking like that. I miss boulevard Joseph. Aku harus ke sana. ke Manado. Aku rindu anginnya, aku kangen tukang sate itu. Dan anak nelayan itu? Mungkin ia sudah jadi pemuda yang gagah sekarang?” Senyum Jessica mengembang riang.
Aku membeku. Disihir kenyataan-kenyataan semu. Anak itu mungkin sekarang sudah jadi preman jalanan, Jessica. Sesalku membathin.
“Entahlah.” Balasku menerawang.
“Joseph?”
Aku gelisah. Ada dusta menghuni hati. Cinta itu masih ada. Dan cinta yang kian sulit terucap jika direlevansikan dengan Boulevard.
“When? Kapan kamu ke Manado.” Tanyaku sekenanya.
“Maybe two months later. I will be there for two weeks. Kita berdua bisa snorkeling. Menghabiskan malam yang romantis. That would be wonderfull. Aku sudah tak sabar. Boulevard masih sama bukan, Joseph?” Aku menggeleng tergagap-gagap. Ya, jalannya sih memang masih sama. Tapi batu-batu itu semakin banyak. Nelayan itu mungkin kini menjadi seorang pemabok yang meratapi nasib kehilangan tempat mengais rezeki.
“Oh tentu. Nothing is change. Except...” Kalimat itu tertunda di leherku.
“Except what..?” Desak Jessica curiga.
“Ah, nggak apa-apa.” Ujarku berkilah.
“Are you sure?”
Aku membuang muka.
“Tidak bisakah kamu menundanya? Dua bulan terlalu singkat. Tahun depan kek, dua tahun depan kek. Tiga tahun depan kek.” Ucapku beralasan, seolah membayangkan dua atau tiga tahun ke depan, Boulevard akan kembali utuh seperti sepuluh tahun lalu. Menjelma seperti sedia kala.
“Are You hiding something, Joseph?.” Jessica mulai curiga.
“Tidak. Aku cuma kuatir.”
“Kuatir pada siapa?”
“Pada kamu?”
“Mengapa?”
“Boulevard, Jessica.”
“Kenapa?”
“Aku tak bisa menjaganya. Aku mengingkari janjiku. Ia terlalu besar untuk aku yang kerdil.” Ucapku kelu.
Jessica tiba-tiba beringsut dari tidurnya. Butiran pasir putih pantai Kuta melekat pada lengannya.
“Joseph, Kamu bicara seperti baru bangun dari mimpi buruk. What is really happening?”
“Susah untuk aku jelaskan.” Hindarku pedih.
“Joseph?” Desaknya cemberut.
Aku menekuk kepala tak sanggup berkata-kata. Dan itu cukup untuk membuat cemberut itu menjadi seraut wajah yang marah.
“I’ll go to Manado tomorrow. Aku harus melihat Boulevard Manado secepatnya! Kamu suka menyembunyikan sesuatu padaku. Aku tak suka dirahasia-rahasiakan.” Ungkapnya tiba-tiba.
“Jessica, kamu nekat. Kamu merusak liburan kamu. Kamu akan kecewa.”
“I don’t care.” Ucap Jessica marah seraya berlalu meninggalkan pantai Kuta. Tergesa-gesa aku menyusulnya. Itulah bangsa bule, blak-blakan dan apa adanya. Dan hari itu juga Jessica segera memesan dua tiket pesawat jurusan Denpasar-Manado via Makassar dengan wajah bersungut-sungut.
Manado keesokan harinya.
Sunset Boulevard tidak tampak dari situ. Tapi Jessica memaksakan diri mematung di situ. Itulah tempat dahulu kami bernostalgia dengan sate ayam. Tapi tidak ada panorama laut. Tidak ada terpaan angin laut yang lembut. Gedung-gedung yang masih berbau cat itu seakan tertawa mengejek menyaksikan kami. Jessica tercenung demikian lama. Kilatan di matanya menggambarkan kekecewaan yang tidak terkira.
“Secepat ini Joseph?” Tanyanya pilu.
Aku mengangguk sedih.
“Mengapa harus di sini. Mengapa laut yang indah ini harus direklamasi hanya demi kepentingan sesaat? Apakah negeri kamu sudah kehabisan lahan sehingga harus menimbun laut?” Cecar Jessica pedih.
“Rakyat Manado terlalu kecil untuk menolaknya Jessica.”
“Tapi kalian bisa marah. Mengapa negeri kalian suka berunjuk rasa oleh kepentingan yang tidak jelas sedangkan kepentingan umum yang dengan terang-terangan telah dikoyak-koyak tidak kalian pedulikan? Mengapa Joseph?” Jeritnya pilu.
Aku menelan ludah tak bisa bersuara.
“Lupakanlah Jessica. Itulah Indonesia.”
“Tidak! Boulevard adalah belahan hidupku. Pernah mengisi carik-carik memoriku. Dan aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk menikmatinya. Kalian tidak berhak melarangku untuk marah! Aku menyesal pernah ke sini. Lebih baik aku tidak pernah menyaksikan kota ini! Itu lebih baik daripada melihatnya hancur seperti ini!”
“Calm down Jessica. Kamu menarik perhatian orang banyak.” Nasehatku gelisah karena di jalanan umum itu kami berdua seperti dua orang yang sedang beradu-mulut.
Seorang remaja tanggung nampak berjalan sempoyongan ke arah kami. Ia sepertinya mabuk. Badannya berlumuran tatto. Aku langsung mengenalinya. Dan mengajak Jessica menjauh dari situ.
“Siapa dia? Tanya Jessica kuatir.
“Dialah anak kecil yang dahulu kamu lihat mendampingi ayahnya mencari ikan.”
“Oh.” Rintih Jessica terperangah.
“Separah itukah efeknya?”
Aku bisa menangkap ekpresi takut di wajah Jessica. Suatu ekpresi yang sangat bertolak belakang dibanding kedatangannya pertama kali.
“Setidaknya kerawanan kota ini belum menyerupai Bronx.”
Kami menghabiskan sore di sebuah kafe di tepi pantai. Namun itu tidak mampu mengobati kekecewaan di wajah Jessica. Ia begitu terpukul.
“Tidak ada lagi tempat yang sama bagi kita untuk menggali kenangan indah itu, Joseph.”
“Apakah kamu tidak akan pernah kembali lagi ke sini?” Tanyaku sedih.
Jessica melengos dengan gumaman.
“I don’t know.” Desisnya kalut.
Kusentuh punggung tangannya dengan lembut.
“Tidak bisakah kamu kembali untuk aku?” Pintaku ragu.
Jessica menusuk mataku dengan tatapnya.
“Apakah kamu sanggup menjagaku, Joseph? Apa kamu tidak akan menyia-nyiakan aku sebagaimana Boulevard yang adalah salah satu bagian hidupku di Indonesia itu tersia-siakan?”
“Tidak Jessica. Aku akan menjagamu dan melindungimu.” Tegasku.
“I love you, Joseph.” Ungkapnya dengan pendar mata tulus campur pedih.
“Aku juga mencintaimu, Jessica.”
Dan matahari pun menangis di sisi Gunung Manado Tua. Karena cinta kami akhirnya terjalin. Cinta yang mampu membuat Jessica merindukan Indonesia lagi. Hanyalah cinta yang kami punya. Itulah kekayaan. Karena kepudaran akan rasa cinta jugalah yang telah mengirimkan keindahan Boulevard ke rimba kehancuran. Mengubur kenangan-kenangan indah kami. Aku pun berjanji, tak akan mereklamasi benih-benih asmara yang telah bersemai di hati kami. Aku bangga memiliki kekasih gadis bule. Namun seperti kata Jessica, kebanggaan saja tidak cukup. Kita harus mencintainya agar tetap lestari. Sampai kapan pun.
Bitung, Desember 2003