Sesungguhnya dalam keabadian hati seseorang hanya ada satu rumah dan cinta...
My Self 2005
Di ujung sebuah pematang itu aku terbuntu. Di gericik air saluran itu aku terhenti. Tak bisa melangkah apalagi berganjak. Gandul-gandul itu terlampau berat mengganjal. Membenam kakiku ke lumpur kotor. Melontar benakku ke atap sesal. Dan ketika kugerayang kulitku. Aku kini memang telanjang. Polos dengan iga dan daging. Kulit yang keriput. Rambut yang kerontang. Sisa-sisa terkaman sang waktu yang semestinya masih belia. Namun cukup mengoyak luka. Sebab genggaman ini semestinya sudah memunya. Tapi aku tak dimilik pun memilik. Hidup adalah memilik. Kamu memilik Ibu, aku memilik Bunda. Kamu memilik Ayah, aku memilik Papa. Kamu memilik harta aku memilik kaya. Tapi ketika aku ingin memilik. Aku ternyata bukan apa-apa. Bahkan tuk dimilik pun memilik. Aku cuma seorang papa yang tak berhak atas segalanya. Aku ingin menangis tapi aku sudah tak punya airmata. Aku ingin meringis tapi aku sudah tak bisa merincih. Aku ingin tergugu tapi aku kini tergagu. Aku sepi. Sendu dan teduh. Aku hanya punya mimpi... Kenapa mimpi? Karena mimpi itu ada tapi tiada. Karena mimpi itu indah dan tak punya kata. Kalau kamu punya bunga, aku punya duri. Kalau kamu punya senyum aku punya sedih. Dan kalau kamu punya prestasi aku cuma berhayal sensasi.
Segala yang ingin kedekap lepas dari rangkulan. Semua yang ingin rengkuh lari berhamburan. Mungkin tanganku berlepotan dusta. Mungkin jemariku bergelumang dosa. Atau dadaku berhamparan prahara. Petaka yang wajib dielak. Musibah yang mesti ditolak. Bencana yang harus disalak. Simbol dari bala. Lambang dari sengsara. Yang ingin memberi putih tapi dikasih pedih. Yang ingin mengasih suci tapi dibalas perih. Yang ingin meraih murni tapi dibayar belati.
Ketika kamu melihat awan yang tergantung mendung di tingkap angkasa, kamu akan berkata itu prahara. Tapi aku bersyukur meski hujan sejenak lagi kan tercurah, awan ada yang punya. Ia punya penyayang yakni Sang Penguasa. Sementara aku hanya sepi yang tak punya cahaya. Dan ketika kulihat senyummu terurai mesra di mezbah tatapku. Hanya satu azab yang bisa kulihat. Bahwa kamu adalah cinta. Bahwa kamu adalah permata, bahwa kamu adalah mutiara. Tapi kamu begitu tinggi, begitu agung. Dan ketika ingin kudongak daguku ke kilau matamu. Ternyata aku hanya bisa tersedu. Karena harga itu terlampau tinggi, mahal dan jauh. Tapi haruskah aku memilu? Mesti lara itu wajib kutiru? Dan saat kuhadang angkasa, segera tersaji lorong-lorong kesah. Dan sadar itu pun segera tiba. Aku memang tak berharga...
Oh, sesulit itukah menggapai dunia? Sesukar itukah meringkus asa? Aku memang tak punya siapa dan apa. Namun aku punya cinta! Aku cuma punya cinta! Karya-Nya yang termulia. Haruskah aku meronta? Mestikah aku meraung tuk meraihnya? Tersedu kemudian sedan demi meratap jiwaku. Ugh, keningku langsung bertaut dan terpekur. Dan dengan munafik yang terurai perkasa kutatap dunia dengan tawa pura-pura.
“He.. he.. he..” Gelakku pongah. Kukacak pinggangku sembari terkekeh-kekeh dengan bangganya. Kutengadah Sang Langit dengan ekspresi gagah. Tapi ketika naungan sunyi itu kembali menerjang, aku pun tersepi, duduk sendiri dengan telunjuk di kening. Dan di kala angan itu menerawang, aku hanya tersenyum menatap langit. Ternyata, aku memang bukan siapa-siapa... Cuma sepotong raga yang tak bersukma. Tak lebih dari sedaun kering yang getas dari tangkainya, tersapu angin kemudian melunglai rapuh ke tandusnya tanah. Tak ubahnya selurus pohon yang meranggas kering di celah cadas bebatuan. Bangga dengan isi hati. Sombong dengan kelebihan diri.
Cinta memang agung dan suci. Nilainya tak bisa ditakar dengan cairan syahwat yang terpancar saat nafsu itu berpendar. Atau ketika jemari Sang Hawa mencengkeram tepi kasur dengan erang memesona, atau jerit Sang Adam yang tersendat ngilu dalam nafas menahan gelora. Cinta itu punya arti, makna yang hakiki. Dia bukan sepenggal tonggak yang menegak garang kala menoleh paha, atau sejumput malu yang menggelora tatkala melirik bulu dada. Cinta itu bukan harga, ia surga. Sayang ia memang penuh noda. Noda yang lahir dari delima-delima sensual yang konon bisa melahap tiang dengan rakusnya. Menjilat rumput dengan penuh gairah.
Kuakui, ketika gundukan lembutmu tersela di kainmu yang rendah. Saat delima di bawah hidungmu merekah menantang gairah, atau senyummu yang mengundang dosa terurai basah di bola mata, bidukku langsung terhimpit, mengeras dan meronta, ingin mencecap lembutnya karunia ragamu. Bahkan aku langsung berhayal jauh, bahwa delimaku dan delimamu kan berpadu. Melilit-lilit dalam lorong yang disesaki ludah. Kemudian kamu terkulai pasrah, merintih dengan tikaman-tikaman nafsuku yang membara. Mengharap kukumu tertancap di kulitku dengan erangan bahagia. Menatapku dengan seringai bangga. Bahwa aku sungguh perkasa. Dan ketika kulihat peluhku menetes di dahimu, kurasa kamu sudah kupunya, jiwa barangkali raga.
Dan ketika putih itu masih meleleh hangat di celah nafsumu. Kuelus kilau pahamu dengan sepenggal asa, ini sudah kupunya. Kuremas dadamu dengan sebuah rasa. Buah ini cuma aku yang punya. Kurengkuh punggungmu dengan sebuah janji. Kamu kan terbaring di lahat bersamaku. Dan kamu pun tenggelam di sela ketiakku yang bau. Meringkuk bak sesekor kelinci yang tak berbulu. Tapi saat binar sucimu menampar mataku. Aku pun tergegau. Tutur katamu ternyata lebih menarik dari lidahmu yang mungkin siap menelan ludahku. Sorot matamu ternyata lebih nikmat dibanding selangkanganmu yang terbuka. Hembusan nafasmu ternyata lebih wangi dari rekahmu yang oleh Sang Dia dicipta untuk melahirkan manusia. Aku pun merasa rendah telah berhayal dosa.
Kuputar-putar analisa, kurenung-renung diriku sebagai manusia. Hanya kering yang dapat kupongah. Secarik kain yang ingin merubah dunia. Meronta-ronta di saat orang berlaku dosa. Ingin merajut mulia di kala manusia tergolek lega di pelukan dosa. Ingin mengukir setia di saat manusia mengingkar cinta di bilik-bilik bergairah. Bersorak bangga manakala selembar perawan rela disobek demi alasan dunia. Oh, aku cuma Pilatus yang sok menjadi Saulus.
Dan tatkala aku terbenam dalam cenung. Terpapar lemas oleh aroma racun yang ditebar. Harummu datang menyerbak. Membuai sukmaku dalam-dalam. Delimamu memang indah. Mungkin lebih indah diganding lidahmu saat merayap tiangku. Wajahmu memang mengundang gairah, mungkin lebih bergairah kala kutampar-tampar dengan dagingku. Baumu memang wangi, mungkin lebih wangi saat liurku membasahi. Putihmu memang suci, mungkin lebih suci saat rintihmu mewarnai. Namun hatimu ternyata lebih murni. Pelengkap ragamu yang suci.
Aku teronggok dalam kalah. Rebah oleh pesona serta kuasa. Sebab kamu memang punya semua. Nafsu maupun cinta. Buai ataupun gairah. Tulus hati. Indah raga. Takluklah egoku. Reduplah maskulinku. Padamlah testoteronku. Dengan darah yang tersedot dari ujung kaki tembus hingga ke bibir rambut yang kering bercabang kuberseru. Mengungkap tulus dengan sejuta sungguh.
Hai sang suci! Aku mencintaimu! Dan pasti terus mencintaimu! Kalau ragumu mengoyak keyakinanmu, potonglah tiangku! Kalau pesimismu menyobek tulusku, cucuklah mataku! Siaplah aku tuk rebah, sujud dan simpuh ke kakimu. Injaklah pipiku kalau dusta bersemayam di kalbuku! Cabiklah dadaku bila ingkar menodai sumpahku! Kuhadang wajahmu. Kuratap matamu. Kupelas sukmamu. Kumohon dengan nyawaku... Maukah kamu mencintaiku? Menyayangiku sepenuh jiwa tanpa remang di kuduk karena lebihnya tubuhku? Atau binar ceria karena lembaran kertas yang bergelimpangan di sela sakuku? Atau seringai girang oleh eloknya parasku? Jujurku dengan setulus nyawa. Dan manakala ungkap itu selesai terlontar. Kutoleh wajahmu dengan gamang. Rengek merecik di pori-pori pipiku. Dan ketika kamu cuma diam menatapku, menghujamku dengan tatapan iba. Lututku pun seketika tergetar. Kugunyam sekeping minta di lorong hati. Kurangkai doa ke bingkai jiwa. Tolong jangan gelengkan kepalamu! Tolong jangan buang mukamu! Karena aku pasti tergugu! Lirihku sedih. Dan setelah sekian lama kutunggu, setelah asa itu terlanjur jauh melenting tinggi. Terbitlah jawabmu. Kamu memang menggelengkan kepala... Dan aku pun tertunduk...
Bulir-bulir perih segera meronai kisi-kisi hati. Senguk dan sedu itu langsung menghujani. Oh, Sang Dewa! Rubahlah hatinya! Goyahkanlah tekadnya! Rengekku mengemis. Tapi saat kutitikkan duka ke lembar kakimu. Saat kubentangkan manja ke kantong matamu. Kamu pun berpaling dan menjauh... Tanpa kata dan suara. Aku merayap dengan rendah dan hina. Kupekik dengan seluruh raga. Kujerit dengan segenap jiwa. Jangan pergi! Cintai aku! Sayangilah aku! Kugapai-gapai tumitmu dengan rintih. Menahan kakimu yang menyeret-nyeret tubuhku. Kamu menoleh dengan senyum tipis dan bijak. Menghentak genggamanku dengan gerak lembut. Sebuah alasan yang tidak bisa kumengerti memburai di wajahmu. Namun sejuta arti terbinar di sana. Dan di sela tipisnya senyummu yang manis. Jawaban itu bak serbuan jarum yang tak bisa kutangkis dengan perisai hatiku. Aku pun tergolek dengan carik di hati.
Hujan pun tercurah, petir pun membahana, langit pun runtuh. Agungnya cintaku bersentuh pilu. Julangnya asaku bersinggung sendu. Kamu beringsut semakin jauh. Berangsur-angsur hilang dalam langkah pasti. Sementara aku merayap dengan lecet menggurat dada. Masih merengek-rengek bagaikan ratapan sang bocah. Dan ketika mulutku ingin berseru dengan bibir meringis kelu, saat itulah kamu lesap diterkam sang jurang. Meninggalkanku dalam tungkai yang rapuh dan sendi-sendi yang luluh. Membiarkan sepiku dengan sisa harum tubuhmu. Dunia pun lambat-lambat memuram. Terang yang semula terhampar benderang redup serta merta. Dan ketika kutoleh mukaku kebelakang, hitam pekatlah semua bayangan. Ada badai, topan yang pelan-pelan mendekat garang. Samar-samar terurai noda di sela tiupannya yang kejam. Kutahu karena itulah kamu berlalu. Karena itulah cintaku tak berpadu. Dan manakala jejakku ingin kuangkat, lemaslah semua sendiku. Kupaksa sampai peluh terperih. Tapi aku memang sudah tak bisa. Saat itulah kutahu, inilah akhir hidupku.
Kubentangkan tangan ke atap langit. Kutautkan gundah ke birunya cakrawala. Kusambitkan pasrah ke leher angkasa. Ambilah hidupku... Seruku samsara. Cabutlah jiwaku... Mohonku rela. Sebab dengan perginya dirimu, sesungguhnya aku sudah suri. Tapi tolong, jangan ambil hatiku. Tolong jangan koyak jantungku. Karena di sanalah pusara cinta sejatiku padamu kusemi... Karena di sanalah embun itu kusimpan. Cermin jiwaku, harga nyawaku. Yang tak akan pernah kuhilang sampai dering sangkakala bernyanyi...
Manado, Di Sudut Malam Yang Sunyi, 07 November 2005