Welcome To My Blog...... Si Tou Timou Tumou Tou... Manusia Hidup Untuk Memanusiakan Manusia Lain....





Rabu, 27 Juli 2011

Cerpen : Sekeping Pahit Di Pasir Bunaken - Oleh : Billy C.W Kalalo

Asti tersenyum riang gembira, sudah sekian lama Waraney melihatnya seriang itu. Keriangan yang memajangkan kecantikannya yang memesona. Sementara deru mesin perahu motor masih meraung-meraung membelah pantai, suara tawa Asti jadi tak terdengar sama sekali. Gerakan tubuhnya gemulai lembut seindah buih putih yang mengekor di belakang perahu. Gelak-gelak Asti bagai desisan merdu menciptakan sensasi teduh di sanubari Waraney. Waraney sekian lama mengagumi keindahan yang dimiliki Asti. Meski kedekatan mereka sebagai sesama mahasiswa mampu menyelimuti desakan hati Waraney yang sesungguhnya, namun gelora meledak-ledak yang riuh bersorak telah menenggelamkan kekaguman Waraney akan Asti kepada suatu perasaan yang lain, unik.
Tanpa terasa perahu motor itu mulai memasuki perairan Pulau Bunaken. Pengemudinya melambatkan laju perahu. Beberapa informasi mengenai keindahan dan segala kelebihan yang dimiliki Taman Laut Bunaken meluncur lepas dari bibirnya, pekerjaan yang mungkin tiap hari dilakukannya. Waraney melenguh jemu, terlalu sering ke Pantai Bunaken membuatnya cukup hapal dengan segala ucapan-ucapan yang setiap kali terdengar sama itu. Sorot matanya tanpa kedip mengawasi gerak-gerik Asti, lenggak-lenggoknya indah setara biru cakrawala yang pagi itu berbinar indah memayungi Pulau Bunaken.
“Waraney, kamu kok diam aja sih. Gembira dong. Panorama laut sini begitu indah. Bagai sebuah fatamorgana. Sudah lama aku memimpikan datang ke sini. Menikmati salah satu kreasi indah Sang Pencipta. Pasti panorama di dasar laut lebih indah lagi ..?” Kagum Asti seraya memeggangi pundak Waraney, bola matanya bersinar misterius menikmati hijaunya air laut. Ya, ini memang kali pertama Asti mengunjungi Bunaken semenjak ia kuliah di Manado. Sungguh kebetulan beberapa rekan mahasiswa memutuskan untuk tidak ikut kegiatan ilmiah di Jogjakarta sehingga mereka memiliki kesempatan berlibur bersama sekadar mengisi kekosongan hari kuliah. Dan kegembiraan yang luar biasa terpancar di wajah Asti begitu mereka memastikan bahwa Bunaken menjadi tempat mereka berwisata.
Perahu merapat ke bibir daratan, dibantunya Asti turun dari perahu. Namun buaian ombak mendorong badan perahu ke arah pantai, menyeret dari pasir putih yang nyaris dipijak. Asti merintih kecil ketika kedua belah ujung jeansnya terbenam air laut hingga ke betis kaki. Refleks ia merenggut punggung Waraney untuk menahan laju tubuhnya agar tidak tergelincir lebih dalam, sekejab itu pula Waraney merengkuh tubuh yang semampai itu, debar jantungnya seketika berdegup kencang tatkala menemukan gadis itu dalam pelukannya. Sejenak mereka terdiam dan saling tatap, ada binar-binar menggelora yang tersorot dari bola mata Asti yang mendadak lunglai itu. Waraney pun merasa kakinya seperti hilang ditelan bumi.
“Hei, ayo dong. Masih ada yang mau turun nih.” Protes Rinny dari belakang menyadarkan Waraney dari lamunan yang mulai menerbang. Dibopongnya Asti menuju pasir, tangan asti menggantung manja di leher Waraney. Sedikit tersipu dan penuh sopan dilepaskannya dekapan tangannya.
“Terima kasih.” Ucap Asti lembut dengan pandangan yang penuh arti.
Waraney menggangguk dalam kerikuhan, kemudian segera mengalihkan tatapannya ke perahu, berusaha menekan hasrat di hati yang ia yakin telah menjadi benih-benih asmara.
‘Wiihh pake acara bopong-bopongan segala ni ye... Ada apa sih.? Sok mesra begitu. Lagian dimana-mana yang namanya ke pantai itu nggak afdol kalau nggak berbasah-basah. Kaya’ kucing aja. Aku jadi curiga nih.” Goda Arnold, lirikannya pada Toar dalam sorot bercanda memperlihatkan bahwa ia tengah berusaha menggoda Asti. Waraney pura-pura bisu.
“Aah, nda apa-apa. Kalian ada-ada saja.” Tukas Asti segera memaklumi kegelisahan yang menyergap diri Waraney.
Kristy yang sedang membersihkan pasir di punggung kakinya mengedipkan sebelah matanya, yang dibalas teman-temannya yang lain dengan dahi terangkat, menyiratkan cerita kasih yang mereka curigai mungkin saja terukir di pesisir Bunaken.
Siang mulai menyapa hari tatkala Waraney mendekati Asti yang tengah mencermati gerakan cacing laut menyelusup ke dalam pasir di permukaan sisa air surut dengan dua buah kelapa muda dalam pelukan lengannya.
“Minum As?” Disodorkannya lembut sembari ikut jongkok berhadapan.
“Terima kasih.” Sedikit perhatian yang diberikan Waraney membuat gadis itu mengalihkan kesibukannya sebentar.
“Aku senang laut. Daerahku di Sumatera terletak di wilayah pegunungan. Melihat laut bagi sebagian dari kami merupakan salah satu berkah. Kamu nggak merasa aneh kan melihat aku terlalu berlebihan mengagumi pantai ini?” Asti merasa risih menemukan mata Waraney yang kelihatan seperti janggal menatap jemari asti yang mungil bermain-main dengan cacing laut yang putih itu.
Waraney menggeleng perlahan.
“Aku juga senang kok.”
“Melihat indahnya panorama bawah laut di sini. Membuat aku membayangkan diri menjadi ikan, coba kamu imajinasikan kalau saja aku punya insang seperti mereka dan bisa bernafas di dalam air. Akan kutaruh tempat tidur di sana, tanpa dinding penghalang agar aku bisa menikmati keajaiban laut sepuasnya. Betapa indahnya jika hidupku dikelilingi kehidupan yang serba warna-warni itu, seperti di negeri dongeng” Imbuhnya sembari menerawang.
Waraney menggeleng-geleng geli.
“Ada ada saja kamu As.”
“Aku serius. Bahkan keindahan laut seringkali tervisualisasikan dalam mimpi bahwa aku akan tertidur lelap di sana.” Mimik Asti sungguh-sungguh.
Beberapa saat kemudian, keduanya berdampingan menyusuri pasir putih Bunaken yang membujur gagah di pelupuk Tanjung Manado. Gerai rambut hitam Asti berseliweran diterpa angin, mengejek mentari yang bersinar garang sedang mengusir pagi dengan teriknya. Waraney kembali membathin, ragu dan bimbang menyayat-nyayat hati. Kepulan asmara berbalut selimut cinta dirasakannya kian genit merobek-robek lembaran hatinya. Namun ia tak kuasa, apalah artinya keagungan cinta tanpa kata dan ekspresi? Waraney risau berada dalam jurang perbedaan. Perbedaan budaya dan kultur yang ada antara ia dan Asti olehnya dianggap menakutkan. Ia takut orang tuanya akan menolak keberadaan Asti jika ia menerima uluran cintanya, ia takut mengecewakan mami dan papi tercinta, ia takut mengalami peristiwa kakaknya yang menjadi muasal semua ini, ia begitu takut, padahal ia sama sekali belum mendapatkan cinta Asti. Bahkan untuk menyatakannya sekalipun!!
Panas mentari sudah membekaskan rona merah di pipi Asti ketika mereka berdua berhenti di hutan bakau. Butir-butir keringat berkilau di dahinya, beberapa helai rambutnya tertahan membasah. Waraney menatap kasihan, tapi tak sedikitpun terpancar raut kepanasan atau kelelahan dari dirinya, Asti betul-betul menikmati hari liburnya.
“Aku mengaggumimu As.” Ucap Waraney lirih. Asti menoleh, dahinya sedikit berkerut meminta penjelasan lebih lanjut dari Waraney.
“Kamu gadis yang baik dan cantik, lelaki yang mendapatkan cintamu pastilah orang yang paling beruntung, setidaknya dalam sudut pandangku.”  Hatinya merintih kecut.
“Lantas?” Asti masih belum mengerti.
“Aahh sudahlah.” Desah Waraney seraya beranjak berdiri. Mengutuk-ngutuk diri sendiri sebagai lelaki pecundang yang tak bisa apa-apa. Mengapa?! Mengapa trauma itu lebih kuat dari cinta ini? Mengapa sekeras itu ia membebat mulut dan pita suaraku? Walau hanya sekedar ingin berucap tiga penggal kata. Aku Cinta Kamu... Waraney menjerit-jerit menyesali diri.
Asti menggeleng kecewa dengan desahan masa bodoh itu. Ia tahu, beberapa waktu terakhir, Waraney sering menunjukan tingkah laku yang aneh kepadanya. Ia pun kini tahu, bahwa tingkah itu telah sedikit merubah penilaiannya kepada Waraney. Karena tingkah Waraney secara tersirat terkandung bias-bias indah yang hanya bisa dirasakan oleh manusia dewasa. Ia pun sepertinya mulai suka dengan gelagat-gelagat yang kerap diperlihatkan Waraney. Namun mendapatkan kesan lelaki itu merahasiakannya, ia cukup bersedih.
Tak terasa sore mulai menjenguk, terik mentari bergeser rona merah di pipi atap langit. Dalam segala tawa canda, setelah berenang, diving, snorkling dan lunch, mereka bersiap pulang. Sisa-sisa gelisah masih membungkus jiwa Waraney. Aku munafik, bisiknya dalam hati. Sejak tadi sesungguhnya ekor matanya bisa menangkap makna kasih pada lirikan-lirikan Asti, dan ia kini tahu Asti sebenarnya memiliki suatu rasa juga kepadanya. Tinggallah ia sepotong lelaki bodoh. Yang tak bisa mengapresiasi arti dari sastra cinta.
Perahu itu kembali meraung, bersahut-sahutan dengan sorak-sorai gembira penumpangnya. Bunaken perlahan menjauh, beberapa anak kecil melambaikan tangan sambil melompat-lompat dengan baju basah. Sisi perahu lama kelamaan kian membiru menandakan kedalaman yang mungkin tiada terkira. Asti memberanikan diri mendekati Waraney. Duduk disampingnya sembari menggengam jemarinya. Dada Waraney berdesir tak beraturan. Tatapan mereka bersirobokan, Waraney menangkap suatu permintaan yang menggantung di sisi mata Asti yang teduh. Permintaan yang mungkin hanya mereka saja yang tahu. Diiring tiupan angin yang lumayan kencang, keduanya membisu, menatap Kota Manado yang masih berbentuk titik-titik kecil dari kejauhan.

***
Sebelas bulan sudah semenjak mereka mengunjungi Bunaken, dan selama itu, Waraney menghabiskan kesendiriannya di Pulau Bunaken. Gurat-gurat kesedihan yang mendalam mengukir di wajahnya yang kini dihiasi jenggot dan kumis yang panjang tak beraturan. Tubuhnya kian kurus tak terurus. Oblong kusut dan celana kumal membalut tubuhnya, kuliahnya bahkan kini terabaikan. Di sampingnya duduk seorang anak kecil yang senantiasa menemani kemana ia pergi. Bahkan untuk mengurus keperluannya sehari-hari. Waraney tenggelam dalam derita nelangsa bathin dan jiwa yang tiada tara.
Dalam perjalanan ke Manado kala mereka meninggalkan Bunaken waktu itu, tanpa di sangka-sangka perahu motor yang mereka tumpangi membentur potongan batang pohon kelapa yang mengapung tanpa kelihatan dengan kecepatan tinggi. Tubuh perahu yang kecil itu tak kuasa menahan goncangan sehingga sempat melayang ke udara dan jatuh ke air dengan posisi terbalik. Semua rekan-rekannya mengapung di atas laut, termasuk para pengemudi perahu. Waraney yang duduk di samping Asti tidak sempat menahan tubuh Asti yang juga turut terlempar. Dalam hitamnya lautan Waraney berusaha menyelam mencari-cari tubuh Asti yang mendadak hilang. Ketika mereka semua muncul di permukaan hanya sosok Asti saja yang tidak nampak. Namun apa daya, keterbatasannya sebagai manusia tanpa dilengkapi alat bantu tak sanggup berbuat lebih banyak. Waraney memang tak menyerah, ia tetap berenang ke sana-sini, menyelam berusaha semampunya mencari sosok Asti, teriakan rekan-rekannya agar ia tetap mendekati perahu dan pelampung diabaikannya. Ia merasa bersalah akan ketidak-mampuannya menjaga Asti padahal mereka duduk berdampingan. Gempuran gelombang yang cukup kuat dan senja yang kian menghitam mengakibatkan pandangan menjadi terbatas dan laut jadi ganas.
Waraney akhirnya nyaris ikut tenggelam. Untunglah ada Paulus yang cepat-cepat menolongnya dan membantunya mengapungkan ke atas pelampung dalam keadaan setengah tak sadarkan diri. Setelah pulih, ia menemukan dirinya berada di Rumah Sakit Umum Pusat Malalayang, tergolek di ruang ICU. Mereka semua berhasil ditolong oleh tim SAR dan beberapa klub menyelam di Bunaken. Sayang, Asti tidak bisa ditemukan, pencarian marathon selama seminggu penuh dihentikan. Asti dipastikan meninggal dunia oleh pihak kepolisian, di duga Asti hanyut terseret arus laut, ia memang tidak bisa berenang, itulah kesimpulan penyebab sehingga ia tidak selamat. Kampus Universitas Samratulangi Manado khususnya Fakultas Ekonomi Program International Bussiness Administration (IBA) berduka. Seluruh mahasiswa sepakat mengenakan pita hitam pada jaket almamater selama satu minggu.
Duka yang menimpa teman-temannya tak mampu menandingi kepahitan yang dirasakan Waraney. Ia sungguh tak mampu menerima kenyataan ini, Waraney mendadak menjadi pemurung. Dalam tidur kerap ia berteriak memanggil Asti. Lambat-lambat kesedihan itu mulai menggerogoti semangat hidupnya, cinta yang semerbak harum di sanubarinya kini hanya bisa menjadi sayatan perih di hatinya yang akan terus menghuni jiwanya hingga putaran waktu bagi hidupnya berakhir. Cinta itu tak pernah terucap dan tidak akan pernah terucapkan. Segala upaya keluarga dan rekan-rekannya untuk mengembalikan kepercayaan diri dan semangat hidup Waraney tidak berhasil. Bahkan tawaran untuk mengikuti terapi psikiater ditolak mentah-mentah dengan penuh amarah. Ia sadar, bahwa ia masih waras. Ia hanya merasa berdosa pada dirinya sendiri dan pada Asti. Waraney akhirnya memutuskan untuk menyendiri di Pulau Bunaken. Berusaha menggali cintanya yang tertinggal dan tak sempat diucapkan.
Hamparan gelombang membiru selalu ditatap Waraney penuh seksama, hatinya terus berharap Asti akan tenang di bawah sana. Tidur dalam pembaringan yang memang diimpikannya, penuh warna-warni bagaikan hidup di negeri dongeng seperti yang pernah diucapkannya. Waraney pun tahu Asti pasti marah dari pembaringannya, menatap dirinya yang terus menyiksa diri. Tapi Waraney tak mau, sebelum ia merasa yakin cintanya sudah tersampaikan. Meski hanya lewat tiupan angin laut. Ataupun melalui bisikan ombak samudra yang mengalir ke tempat Asti tertidur bahkan oleh lumba-lumba yang tak henti-hentinya melompat-lompat.  Cinta Waraney teruntuk Asti seorang, hingga maut menjelang.

Halmahera, July, 2002
This Story dedicated to All my friends in Gosowong Camp.