Welcome To My Blog...... Si Tou Timou Tumou Tou... Manusia Hidup Untuk Memanusiakan Manusia Lain....





Rabu, 27 Juli 2011

Cerpen : Merpati Itu Tak Lagi Sama - Oleh : Billy C.W Kalalo

Teras di belakang rumah itu tidaklah besar. Kira-kira tiga kali dua meter luasnya. Terletak di sisi belakang rumahku. Di sana ada taman bunga. Beberapa pohon, dan kolam ikan yang airnya berkecipak merdu setiap kali jatuh berbenturan. Panoramanya minimalis namun sejuk. Serba hijau dan teduh. Ada mawar merah yang kuncupnya seakan tak kunjung henti silih berganti memekarkan kelopaknya. Aku suka mawar itu. Aku suka baunya. Mereka senantiasa tersenyum melihatku berdiri di sana. Rintih dan cicit burung dalam sangkar juga menawarkan harmonisasi alam yang sendu. Paduan furniture bergaya american style yang simpel menopang semuanya itu. Amat cozy dan soft. Tapi bukan untuk itu aku betah berlama di sana. Bukan untuk itu aku setiap pagi menopang dagu di situ. Ada sebuah rumah merpati di tengah taman. Rumah yang dibangun oleh Opa ketika aku masih kanak-kanak.
“Rumah ini mungil. Tapi maknanya tak semungil rumahnya.” Terang Opa tatkala aku berjongkok memperhatikan ia menyelesaikannya.
“Maksud Opa?” Tanyaku tak mengerti.
“Merpati itu mahluk yang paling setia di dunia ini.” Imbuh Opa menerangkan.
“Aku masih tak mengerti, Opa.” Sahutku lugu. Aku masih terlalu kecil untuk berpikir terlalu besar.
“Merpati tak pernah ingkar janji. Sekali mereka mendapatkan satu pasangan. Itu akan menjadi pasangan abadi. Sekalipun maut memisahkan mereka. Merpati yang hidup tak akan berpaling hatinya. Ia akan hidup sebatang kara sepanjang sisa hidupnya.”
“Ooooo..” Anggukku maklum. Padahal sebenarnya aku masih terlalu innocent untuk mengerti.
Rumah merpati yang indah itu ditopang dengan satu tiang besi yang tinggi. Sayang, rumah itu mungkin terlampau mahal. Atau barangkali terlalu indah. Dan setelah sekian lama berdiri. Tak ada satu pun atau bahkan sepasang merpati yang sudi bersemayam di sana. Aku setiap pagi bernaung di teras itu. Semata-mata menunggui barangkali ada paruh merpati imut yang tiba-tiba nongol dari pintu gaya eropanya itu. Tapi hampa. Bahkan ketika Opa membeli dari pasar burung sepasang merpati putih yang lucu. Esoknya mereka telah kabur entah kemana. Semua berlangsung demikian sampai Opa berpulang dan rumah itu perlahan-lahan memudar warnanya. Tidak terawat. Hari demi hari berganti, bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun terlewati. Tanpa terasa usiaku beranjak dewasa. Dan rumah itu masih terlalu kokoh untuk lapuk apalagi roboh. Dan tetap sepi tiada penghuni.
Suatu pagi ketika mentari baru saja menyibakkan jubahnya di cakrawala yang biru. Seperti biasa aku termangu di teras itu. Kali ini aku mulai dirundung rasa jenuh. Enggan menatap pintu eropa yang kerdil itu. Namun sesuatu tiba-tiba merembesi hatiku. Mendesirkan darahku. Dalam kibasan mata yang cepat. Sesuatu yang bergerak dalam kegelapan samar-samar mengusik ketenteraman relung hatiku. Apakah rumah itu kini telah dihuni? Bisik hatiku penasaran. Aku menajamkan mata ke pintu itu. Dan ketika aku mengawasinya lebih seksama. Paruh kecil yang lama kunanti itu perlahan keluar dari situ. Embun sejuk sekonyong-konyong membasahi rongga dadaku. Rumah itu telah ditempati. Telah dihuni. Kepala itu menyembul dengan matanya yang bening. Lucu sekali melihat ia nampak malu-malu menampilkan parasnya. Aku senang sekali ketika ia benar-benar tampil percaya diri menampakkan tubuhnya. Seakan mengajakku berkenalan. Aku gembira menyambutnya. Apalagi secara bersamaan sebuah paruh lain mengintip dari punggung yang satunya. Sepasang merpati! Aku sungguh terharu. Mereka keluar dan bertengger di sebilah pipa besi yang dibuat menjorok keluar. Mereka tersenyum menatapku. Seolah menanyakan persetujuanku dengan kehadiran mereka di rumah itu. Aku balas tersenyum. Pertanda setuju. Ugh, kalau saja Opa menyaksikan peristiwa itu... Rintih bathinku pedih.
Hari-hari selanjutnya, hidupku berlangsung penuh semangat dan bergairah. Pagi demi pagi lebih cerah dari biasanya. Dan malam terasa menjadi lama. Indah sekali menyaksikan mereka berbagi kemesraan. Saling cumbu dengan cagutannya masing-masing. Salib menyalib di udara dengan romantisnya. Mereka putih sekali. Putih bersih tanpa setitik noktah di sekujur bulu. Di mana yang satunya mengepakkan sayap, di situ pula pasangannya bertengger. Seia-sekata, sehati-sejiwa, sepenanggung-sependeritaan. Tak jarang aku iri pada mereka. Ingin rasanya aku bertanya tentang kisah kasih mereka. Di mana mereka berjumpa. Siapa yang lebih dulu menyatakan cinta. Namun aku tahu itu tak bisa.
Semula aku kesulitan membedakan mereka. Namun lama kelamaan aku mulai bisa mengenalinya. Yang memiliki bilur-bilur kelabu di paruhnya adalah sang jejaka sedang yang hitam seutuhnya adalah sang gadisnya. Mereka sangat selaras, sepadan dan mungkin saja seiman. Ketika mereka terbang membelah angkasa, aku memutuskan merenovasi rumah itu. Dindingnya kucat putih senada bulu mereka. Atapnya kuganti lebih baru. Ah, andai saja aku bisa meletakkan sebuah tempat tidur yang empuk dan sebiji sofa yang lembut di sana, mereka pasti bahagia sekali. Angan benakku entah untuk maksud apa.
September harusnya ceria. Butiran air yang membentuk gerimis semestinya menjadi ungkapan selamat datang setelah kemarau yang lama. Namun September tetaplah September. Tiada aturan baku mengenai keselarasan alam dan hati manusia. Pagi itu mentari enggan membiaskan sinarnya. Sembunyi di balik selimut mendung yang menyaputi cakrawala. Di pucuk kelopak mawar merecik butiran air segar. Aku menghirup nafas dalam-dalam. Angin dingin menerobos paru-paruku yang kosong. Nyaman sekali rasanya. Sorot mataku segera tertuju di pintu kerdil nan mungil itu. Biasanya dengan sekali suitan kedua pasang kekasih itu langsung keluar dengan lincahnya. Bermain-main di antara tanganku. Menghabiskan segenggam jagung sebagai sarapan. Tapi setelah lama menunggu, tak satu pun dari mereka yang keluar. Hanya sang jejaka yang menjulurkan kepalanya beberapa detik saja lalu kembali masuk. Menatapku dalam tatapan kosong. Aku jadi penasaran. Di tengah rintik air yang tiba-tiba membasahi pagi. Aku memutuskan mengambil tangga guna melongok langsung keadaan mereka. Dan aku tiba-tiba sedih sekali. Di sudut rumah itu, sang betina nampak murung menyembunyikan kepalanya ke dalam sayapnya. Bulu-bulunya mengembang kusut seakan tak sanggup mengusir rasa dingin yang menyerangnya. Tubuhnya bergeletar dengan keseimbangan yang rapuh. Ia mengeluarkan kepalanya menengok kehadiranku. Matanya kuyu tanpa semangat. Cairan bening menetes dari hidung paruhnya. Ia sakit. Si jantan kelihatan gelisah sekali. Sorot matanya tulus menikam jantungku. Oh, sayang. Apa yang harus aku perbuat? Keluh hatiku gundah...
“Umumnya memasuki triwulan ke-empat saat musim penghujan tiba, sebagian unggas terserang sakit. Baik yang hidup di udara maupun di darat. Mereka rentan terhadap perubahan cuaca. Itu normal.” Jelas Papi ketika pagi itu juga aku menanyakan kepadanya.
“Tapi ia pasti sembuh kan, Papi?” Tanyaku gelisah. Papi mengangkat bahu.
“Entahlah. Tergantung daya tahan tubuh mereka. Apalagi merpati itu datang begitu saja. Kita tidak tahu saat kecil mereka divaksin atau tidak. Lebih baik kamu membawanya ke dokter hewan.” Nasehat papi.
Tanpa ba bi bu. Hari itu juga aku membawanya ke dokter hewan. Kuraih dus kecil. Kualaskan tumpukkan tisu di sana. Kubaringkan sang betina itu di situ. Iba sekali menyaksikan tatapan si jantan yang penuh kekuatiran. Bahkan ketika aku melesat di jalan raya dengan Honda C-RV merahku. Si merpati jantan terus saja membuntuti kami dari belakang. Terkadang ia terbang rendah mendekati kaca. Mungkin ingin menengok kalau kekasihnya itu baik-baik saja.
Si dokter hewan menggelengkan kepalanya.
“Sulit. Penyakit ini sejenis tetelo pada ayam. Penyebarannya melalui virus. Jarang ada yang sembuh. Barangkali merpati ini bukan berasal dari peternakan. Kelihatannya ia tidak di vaksin.”
Mataku tiba-tiba terasa pedih.
“Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya, Dok?” Harapku kelu.
Si dokter menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Bahuku segera lemas. Di kaca ruang praktek itu kusaksikan si jantan yang hinggap di tepi jendela ikutan murung. Pijar bola matanya sayu. Dari gestur yang diperlihatkannya, sepertinya ia turut mendengar penjelasan si dokter itu.
“Saya akan memberikan antibiotik dan vitamin. Hanya itu yang bisa dilakukan. Siapa tahu ada mujizat dan kesehatannya bisa pulih kembali.” Kuterima obat itu dengan dada terbelah. Dunia seakan bermuram durja. Kabur dan berangsur-angsur gelap.
Dalam perjalanan pulang, perhatianku tak luput dari dus kecil itu. Maaf, Sayang. Aku telah mencoba. Bathinku memelas. Kuatkan hatimu. Lawan penyakitmu. Kutambatkan doa ke langit, meminta pertolongan dari Sang Dia. Dan si betina seperti membaca isi hatiku. Ada ungkapan terima kasih membersit dari matanya. Sekaligus menyiratkan pesan untuk merelakan sesuatu yang mungkin tak akan pernah aku relakan.
Usai mengasupinya dengan obat dan vitamin. Kuletakkan si betina itu dengan lembut di rumahnya itu. Si jantan segera menyerbu masuk. Dengan tekun ia membersihkan bulu-bulu kekasihnya itu dengan paruhnya. Memberikan kekuatan dan harapan. Melalui bahasa hati, kulebarkan senyum kepada mereka. Aku tahu mereka menangis padaku. Tapi terkadang tak perlu ada airmata dalam setiap tangisan. Kepedihan yang menyengat terlampau hebat mengeringkan samudera duka cita.
Satu malam tidurku tak lelap. Membayangkan kondisi mereka di dalam rumah mungil tanpa penghangat itu membuat jiwaku berguncang pedih. Kurebahkan kepalaku di bantal tidurku yang lembut. Tiba-tiba aku merasa tak adil. Betapa beruntungnya hidupku. Betapa aku bisa tidur tenteram di kamar yang mewah ini. Betapa selama ini aku terlalu menyia-nyiakan karunia yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Mungkinkah jejak-jejak kering yang meranggas pepohonan hatiku selama ini akan terbuka? Aku memang naif. Aku memang bodoh. Aku terlalu menghakimi diri. Aku harus berani bersikap asertif mengarungi samudera kehidupan yang kian garang ini.
Dengan sejuta kerisauan membanjiri dada. Masih dengan piyama membungkus raga. Pagi itu aku menghambur cepat ke teras itu. Menapaki tangga dengan perasaan was-was. Mungkinkah? Oh, jangan... Tolong jangan. Rintihku perih. Si jantan rupanya telah menanti kedatanganku. Ia terbang melintas sejenak kemudian hinggap di bahuku. Pelan-pelan kutengok isi rumah itu. Dan degg!!! Dadaku bergetar. Si betina itu tengah terbaring lemah dengan nafas satu-satu. Paruhnya terkulai dengan cairan basah memenuhi sekitar paruhnya. Si jantan terbang masuk. Mematuk-matuk tubuh pasangannya. Aku mengerti ia tak rela. Ia tak tega. Demikian juga aku. Sorot mata si betina yang kuyu menghujam relung hatiku. Ia sepertinya hendak menyatakan sesuatu. Kucoba mengerti gerangan maksudnya. Namun aku tak bisa. Lambat-laun pendar di matanya itu pun meredup. Perlahan-lahan matanya terkatup. Dua bulir airmata menggenang di pelupuk mataku, kemudian jatuh membasahi pipi. Ia telah pergi. Meninggalkan jejak sungkawa di belahan dadaku. Nyeri menerpa kisi-kisi jiwaku. Ia hanya menungguku. Ia hanya ingin pamit padaku. Tak mau pergi sebelum bersua denganku. Si jantan tiba-tiba mengepakkan sayapnya kuat-kuat. Menimbulkan tiupan angin di kedua pipiku. Bulu putihnya berserakkan kemana-mana. Rumah itu jadi gaduh. Ia kemudian keluar. Terbang jauh ke angkasa yang kelam. Sampai tinggal berwujud titik kecil. Aku tahu ia bersedih. Jiwanya terkapar. Meronta-ronta, meraung-raung, menjerit-jerit. Belahan jiwanya telah terbang lebih tinggi. Ke langit yang tak mungkin sayapnya mampu mengejar.
Disaksikan si jantan, kukuburkan si betina itu di kaki tiang besi rumah merpati itu. kutanamkan sebuah mawar merah di atas pusaranya sebagai tanda. Setelah makam itu telah selesai. Si jantan langsung terbang masuk. Bersembunyi di dalam rumahnya itu. Sendiri mengarungi sepi. Sebatang kara seperti kisah Opa.
Setiap pagi aku masih berada di sana. Menunggui si jantan menghabiskan butiran jagung di genggamanku. Namun ia lebih banyak berdiam diri. Hanya menghabiskan sebutir dua butir, lalu kembali masuk dan tak akan pernah keluar sampai esok tiba. Begitu seterusnya. Tak jarang ia menjulurkan kepalanya di sore hari. Tapi ia barangkali hanya sekadar ingin menyenangkan kehadiranku. Aku tak mau ia begitu. Aku ingin ia bahagia. Aku tak sudi melihatnya sengsara. Dan semakin lama, penderitaan si jantan nan kesepian itu kian kentara. Bulu-bulunya yang mulus satu per satu ranggas berguguran. Si jantan yang gagah dalam waktu singkat menjadi buruk rupa. Ibarat bonsai mahal yang tak lagi terawat. Kurus dan ringkih.
Dan aku tak tahu penyebabnya apa. Mawar merah yang kutanam di atas pusara si betina itu harusnya telah berbunga. Namun kenyataannya ia terus tumbuh subur tanpa sekuncup pun bakal bunga. Sekali waktu ketika aku mencoba memangkas ranting-ranting keringnya. Tanganku tergores oleh durinya. Mungkin jiwa si betina tak sudi melihat bunga itu jadi indah. Merepresentasi kasihnya yang tak terhingga kepada belahan jiwanya yang tengah bermuram durja di atas sana. Aku pun memutuskan membiarkan mawar itu jadi liar pertumbuhannya. Oh, kalau saja ada bidadari yang turun dengan tongkat magisnya. Aku ingin disihir jadi merpati. Akan kudampingi si jantan yang kesepian itu siang dan malam. Akan kuhibur ia dengan senandung-senandung riang. Akan kutemani ia sampai maut menjelang.
Aku telah pasrah. Hidup adalah pilihan-pilihan. Mungkin saja itulah pilihan si jantan. Memupuk kesetiaan sampai hikayatnya berakhir. Hingga kelak bersatu lagi pada alam lain yang abadi. Yang tiada lagi batas pemisah. Yang tiada lagi sakit dan nyeri. Yang tiada lagi kesah dan rindu.
Pada suatu hari. Tatkala bathinku tenggelam dalam kemuraman. Kering dengan simpati yang mendalam. Seekor merpati yang tak kukenal sekonyong-konyong berkelebat di atas rumah merpati itu. Warna bulunya tidak putih. Abu-abu misty. Dari bentuk tubuhnya aku tahu ia betina. Seekor merpati yang mungkin baru dewasa. Baru mengenal cinta. Sedang mencari arjuna untuk membidik hatinya dengan panah asmara. Ia kerap hinggap di dahan pohon yang berhadapan dengan pintu rumah itu. Mempertunjukkan gerakan yang menarik perhatian. Memamerkan segala pesona raga yang dimilikinya. Tapi si jantan itu tidak goyah. Kokoh dengan pendiriannya. Tetap meringkuk di dalam sarangnya. Bahkan untuk sekadar menikmati lekuk gemulai si merpati remaja yang sempurna itu. Kadang aku berpikir, mungkin si jantan malu dengan kondisi fisiknya. Tidak pede dalam istilah manusia remaja. Tapi aku menampik semua asumsi itu. Aku tahu si jantan hanyalah terluka, ia terlalu setia. Merpati muda itu akhirnya lelah. Ia tiba-tiba menghilang dan tak pernah kembali. Mungkin merpati lain telah berhasil melesatkan panah ke bulatan jantungnya.
Di lain kesempatan, datang pula seekor merpati yang berusia sama dengan merpati abu-abu pertama. Ia berwarna hitam. Mencoba merayu si jantan dengan keindahan bulunya yang berkilau legam. Tapi kenyataan tidak berubah. Ketegaran si merpati yang kesepian terlalu kokoh untuk dipatahkan. Merpati hitam itu lebih gigih dari merpati pertama. Cukup lama ia menyambangi dahan yang berhadapan dengan pintu rumah itu. Menawarkan segala kelebihan yang dimilikinya. Namun ia pada akhirnya lelah jua. Dari seminggu tujuh kali, seminggu empat kali, seminggu dua kali akhirnya seminggu tidak sama sekali. Si hitam lenyap entah kemana. Ke dunia antah berantah yang lebih pasti. Tembok itu terlalu tangguh untuk dirobohkan.
Dua bulan lagi aku akan menamatkan SMA. Dan aku kian sangsi dengan nasib si jantan itu. Merpati memang tak pernah ingkar janji. Sekali menggoreskan cinta di loh hatinya. Itu akan terpatri selama-lamanya. Namun aku tak bosan-bosannya menghabiskan pagi di teras itu. Melagukan sesuatu yang kiranya dapat membangkitkan getar-getar di sanubarinya. Mengalirkan sejumput asa. Dan tatkala di sore yang cerah itu aku menyaksikan seekor merpati betina hinggap di dahan tersebut aku menanggapinya biasa-biasa saja. Aku yakin tidak ada yang akan berubah. Merpati yang satu ini mirip dengan si betina yang telah pergi itu. Bulunya putih bersih, hanya ada sedikit jambul kuning menjuntai di keningnya. Aku bahkan mulai berhitung hari. Berapa lama kira-kira si putih itu mampu bertahan?
Namun lama kelamaan tak urung aku terkagum juga. Si putih itu paling gigih dari sebelumnya. Tak kenal menyerah. Ia malahan nekat terbang mendekat ke pintu itu. Mengeluarkan suaranya yang berdengung. Sekali waktu kulihat si jantan itu mematuk-matuknya. Memerintahkannya untuk enyah dari sana. Leave me alone..! Demikian barangkali katanya. Tapi itu tak meluruhkan si putih. Di suatu pagi ia bahkan mulai berani mematuk-matuk jagung di genggamanku, menjepitnya di sela paruhnya kemudian melepaskannya di depan pintu rumah itu. Dan di saat malam menjelang, si putih memutuskan tidur di atap rumah itu. Tak peduli hujan deras yang tercurah. Sesuatu tiba-tiba membakar api di dadaku. Walau pagi masih belia. Aku telah berada di sana. Seakan ingin memberikan dorongan moril kepadanya. Majulah Putih! Taklukan dia! Pijarkan api ke relung hatinya. Gunyamku memberi support.
Kejadian tersebut berlangsung lama. Dan tiada respon apapun dari si jantan. Hatinya telah membatu. Aku berbalik kasihan dengan si putih. Ketika ia mematuk jagung di genggamanku, aku menatapnya dengan sebuah pesan memburai di wajah. Sudahlah... carilah merpati-merpati yang lain. Jangan kamu habiskan hidupmu yang berharga untuk sesuatu yang niskala. Itulah ungkapan jiwa yang tergambar di parasku. Semoga ia memahaminya, harapku sedih.
Tapi ia keesokan harinya si putih masih ada. Tetap menyambangi si jantan itu. Setia menungguinya. Aku sampai geleng-geleng kepala. Si jantan ketemu lawan sepadan. Sama-sama mengharapkan bulan runtuh dari langit.
Lantunan Karena Cinta dari Delon baru saja usai berdendang ketika aku menemukan perubahan yang amat signifikan di rumah itu. Si jantan yang sarat nestapa itu tiba-tiba kulihat keluar dari pertapaannya. Disaksikan si putih, ia melahap dengan lemas satu per satu biji jagung pemberiannya yang betebaran di depan pintu rumah. Kasihan sekali, tubuhnya sempoyongan berupaya bertahan agar tidak roboh. Bulu-bulunya ranggas. Aku prihatin sekaligus gembira campur haru. Ketekunan, ketabahan, keuletan si putih untuk merangkai kembali keping-keping kehidupan si jantan telah menuaikan hasil. Lalu kulihat ia mulai berani menghampiri si jantan. Mencagut helai-helai kotor yang menempeli tubuhnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Berupaya merawatnya, menjaganya. Sungguh mengharukan.
Dan terasa begitu membahagiakan setelah keesokan paginya tak kutemukan lagi si putih mengibaskan-ngibaskan bulunya yang basah akibat dirundung embun semalaman. Dan terasa amat melegakan tatkala pada hari-hari berikutnya kulihat segurat senyum membias di wajah si jantan yang nyaris keriput. Dan lebih menyenangkan lagi ketika kutemukan satu demi satu bakal bulu nampak mulai menyembul di sela pori-porinya. Mereka telah berpadu di rumah itu. Mungkin belum merangkai tali temali yang erat. Tapi rumah itu telah menyatukan. Mempersatukan mereka. Pelan-pelan si jantan berhasil menghimpun kekuatan, ia mulai berani bertengger kembali di pipa besi yang menjorok itu. Meski kepalanya kadang masih tertunduk. Dan keningnya sesekali mengerut. Tapi sekerat asa telah berperam di jendela hidupnya. Asa yang ditabur oleh kesucian dan ketabahan si putih. Kemurnian tekad untuk mengobati sekeping luka yang tiada obatnya. Berjuang untuk menggeser sebilah janji setia di hati. Bukan sebagai pengganti, bukan untuk mengkhianati. Namun demi terpeliharanya makna hakiki dari sebuah tekad.
Di suatu pagi yang cerah dan sejuk. Aku tak kuasa lagi membendung airmata. Kuncup-kuncup mawar merah pada pusara itu tiba-tiba bermunculan lalu bermekaran. Oh, si betina yang raganya terbenam di sana. Yang arwahnya telah melayang-layang tenang nun jauh di nirwana sana. Seolah menyampaikan persetujuannya, mengungkapkan perasaannya. Bahwa ia turut bersuka. Bahwa ia turut bahagia. Bahkan mungkin ia berterima-kasih. Karena si putih telah berhasil menyegarkan kembali rumput-rumput yang layu.
“Kita sudah harus segera pergi, Katrin.” Teguran Mami mengagetkanku. Ia menyentuh bahuku. Sejuta beban berat membebani diri kala aku terpaksa harus berangkat ke Perth hari itu. Ujian SMA telah lama berlalu dan aku akan kuliah di sana. Berat karena hari-hari yang kelak harus kulalui tanpa teras itu. Tanpa rumah itu. Tanpa si jantan dan si putih. Tanpa mawar merah yang kini terawat rapi di kaki tiang besi itu.
Mami menoleh ke rumah itu. Si putih dan si jantan seakan menebarkan keyakinan melalui gerak tubuh mereka. Mawar merah di bawah sana tiba-tiba menebarkan aroma wanginya. Meyakinkan diriku bahwa mereka pasti baik-baik saja.
“Mami akan merawat mereka.” Janji Mami tulus. Ia merangkul bahuku dan aku merebahkan kepalaku ke pundaknya.
Saat mobil yang mengantarku ke bandara melaju meninggalkan rumah. Sepasang merpati itu mengikuti sampai di penghujung jalan. Mereka melambaikan salam perpisahan pada setiap kepaknya. Tanpa sadar airmataku menitik membasahi pipi. Merpati itu tak lagi sama. Namun rumahnya tetap itu jua. Yang akan menaungi mereka, yang akan membungkus sukma mereka, untuk terus bersama, dalam suka dan duka. Rumah itulah pilar ikrar mereka.
Enam bulan di Perth Mami memberitahuku kabar suka cita. Rumah itu telah bertambah penghuni. Dua merpati kecil baru saja menetas. Meramaikan isi rumah yang konon sekarang jadi agak sedikit terlihat padat. Dan mawar merah di kaki rumah itu, katanya semakin subur memekarkan kembangnya. Menyerakkan harumnya ke segala penjuru. Merpati memang tak pernah ingkar janji. Si jantan tidak mengingkari nurani. Ia hanya ingin mempertahankan rumah itu. Dan si putih pun tahu, ia tak akan pernah sanggup menggeser sebuah kisi di belahan dada si jantan. Ia cukup berbahagia dengan apa yang dimilikinya. Karena dengan itu hidupnya telah sempurna. Karena dengan itu ia merasa nyaman dan tentram. Tanpa takut ditinggalkan. Merpati memang tak pernah ingkar janji... Namun janji tak harus mati.

Manado, 04 Maret 2005