Oleh : Billy C.W Kalalo
I
(Terkoyak Bayangan Silam)
Bulan tidak putih, matahari tidak jingga.
Kalau kamu ada atau pun tiada, menyinari tubuh dan jiwa, mengisi hati dengan kasih dan kisah.
Jejak kita telah jauh memudar, tersapu hempasan debu angin yang berputar-putar, keras dan samar-samar.
Namun aku masih terkenang...
Oleh luka dan duka yang merentang.
Tercabik-cabik di titian kehidupan antara pilihan demi pilihan.
Aku bingung, Aku resah , aku gelisah, aku takut…
Bersembunyi pada keluhan dan rintihan-rintihan.
Meringkuk dalam topeng-topeng kemunafikan.
Luka itu masih menganga.
Aliran hidup kadang tak mesti menerang kala cahaya itu datang.
Ternyata,
Suram.
II
(Terbelenggu Kekuatan Cinta)
Duri demi duri datang menghunjam.
Perih namun terasa indah.
Air mata berjatuhan namun terasa riang.
Senyum terkembang meski jiwa meregang.
Dusta itu kemudian datang saat tirai sudah tersibak.
Aku bingung, Aku resah, Aku gelisah, Aku takut…
Aku akhirnya tertunduk saat kepala mendongak.
Kenapa, mengapa ?!
Kuberlari kuat-kuat menepis cinta yang semakin terkuak.
Letih dan terkapar pada dua sisi pengharapan untuk menyembuhkan luka dengan sepotong luka yang kelak berbuah luka.
Kususuri langkah pada lorong bertaburan mawar mewangi dengan seonggok bara di pundak.
Ternyata,
Aku makin cinta.
III
(Terkalahkan Oleh Cinta)
Tiba-tiba aku jadi buta.
Ohh… tolong ! Pekikku ketakutan.
Apakah aku masih aku? Kubertanya sembari meraba-raba.
Memang masih aku, yang menemukan diriku memberi tahu diriku bahwa aku bukan lagi diriku.
Kala kelelahan semakin deras menebas, dongeng itu telah berputar, bermain-main pada waktu.
Tapi, lilin itu tidak padam.
Terbungkus cinta yang membungkah laksana karang keras menjulang kokoh yang tersimpan dalam gua gelap gulita.
Lilin itu menguncupkan api yang merobah merpati menjadi serigala.
Ooh, tidak! Teriakku jemu...
Tamparan-tamparan itu masih datang pada ketulusan yang kian menyengat.
Kali ini…
Aku tak mau menangis, aku bahagia, aku bahagia, aku bahagiaaa…!!!
Haa..haa..ha… tiba-tiba aku menangis.
Darah menerobos dari gua gulita.
Kubiarkan airmata mengalir deras dengan terpingkal-pingkal.
Saat itu aku terhenyak, menemukan tetesan merah terjatuh di buntalan hatimu yang utuh.
Tersaji segar di atas hidangan kehidupanku.
Aku marah dan meronta,
Cakrawala masih menghitam dan mendung masih menggantung.
Aku menggigil tanpa daya, kembali berlari pada kondisi yang letih.
Bulan memang enggan menjadi putih,
Takut sebab ia putih.
Hingga petir hingar-bingar menggelegar, saat aku terjaga.
Cinta itu memang ada, Menyelimuti hatiku yang berkabut.
Aku mencintaimu, mengasihimu, putih bersih bak sutra di padang pasir.
Apakah yang kupunya?
Selain cinta dan cinta?
Biarkanlah aku mencintaimu demi cinta yang kupelihara di atas mezbah cinta yang membara-bara pada perapian asmara.
(sekian)
Untuk Cinta Yang Tersesat ...